Kontroversi Pluto bukan Lagi Planet

jkSetelah bertahun-tahun bergumul dalam perdebatan yang intens, para astronom yang berkumpul di Praha, Ceko memutuskan untuk menurunkan status Pluto menjadi bukan anggota planet di tata surya. “Pluto bukan lagi planet, kini hanya ada 8 planet di tata surya”, ujar Michael Brown, dari California Institute of Technology (Caltech) Keputusan ini dihasilkan melalui voting peserta yang hadir di hari terakhir International Astronomical Union (IAU) di Praha, Ceko. Voting dilakukan setelah 8 hari berdebat tak berujung diantara 4 proposal yang berbeda dalam pertemuan itu.

Namun keputusan tersebut menimbulkan pro dan kontra yang amat serius diantara kalangan astronom di seluruh dunia. Masalahnya kurang dari 5 persen dari jumlah astronom di seluruh dunia yang memilih dalam voting di forum IAU yakni 424 astronom yang memilih dalam voting, sementara di dunia ada 10.000 astronom profesional. Saat ini para astronom di seluruh dunia sedang mengumpulkan petisi untuk menganulir keputusan IAU tersebut.

“Sungguh astronomi yang memalukan,” ujar Alan Stern, Ketua misi pesawat ruang angkasa NASA New Horizon yang di luncurkan ke Pluto, Januari lalu dan ilmuwan di Institute Southwest Research kepada Space.com. Menurutnya, definisi itu sungguh bodoh. Dia berharap komunitas astronom bisa kembali mengubah keputusan tersebut. Sementara itu, astronom yang lain mengkritik definisi baru itu sebagai definisi yang ambigu, karena walau pluto secara resmi bukan lagi planet di tata surya, namun pluto kini disebut sebagai “planet kerdil” atau dwarf planet.

Pluto dan bulannya, Charon kini diturunkan pangkatnya menjadi planet kerdil karena mereka tidak memiliki orbit yang dominan seperti delapan planet lainnya. Selain Pluto, Charon, Xena, dan Ceres juga dimasukkan dalam kategori baru ini. Kategori “planet kerdil” diharapkan dapat dijadikan definisi bagi lusinan objek bundar di ruang angkasa yang telah ditemukan diantara planet Neptunus. Dengan teleskop canggih teknologi terbaru, diprediksi ratusan “planet kerdil” akan ditemukan.

Dalam sidang umum IAU, para astronom sepakat bahwa benda langit dapat disebut sebagai planet jika mengorbit bintang namun bukan sebagai bintang yang memancarkan sinar. Selain itu, ukurannya harus cukup besar sehingga memiliki gravitasi yang membuatnya berbentuk bulat dan memiliki orbit yang jelas berbeda dengan objek langit lainnya. Menurut IAU, Pluto secara otomatis tidak memenuhi syarat ini karena orbitnya yang berbentuk elips tumpang tindih dengan orbit Neptunus. Orbitnya terhadap Matahari juga terlalu melengkung dibandingkan delapan objek yang diklasifikasikan seba-gai planet.

Owen Gingerich, sejarawan dan astronom dari Harvard, menyebutkan bahwa definisi baru itu membingungkan. dan tidak semua setuju. Dia tidak suka dengan definisi “planet kerdil”. “Planet kerdil bukanlah planet, sangatlah aneh,” ujarnya. Gingerich tidak bisa ikut voting karena dia masih berada di Boston pada saat itu, sementara IAU tidak menyediakan fasilitas elektronik voting.

Keputusan IAU agaknya sudah tidak bisa diganggu gugat. Mewakili panitia, Michael Brown mengatakan bahwa keputusan itu adalah telah ditetapkan, dan bahwa masyarakat tidak akan terlalu tertarik akan fakta Pluto itu planet atau bukan. Namun, dengan adanya keputusan ini, semua teksbook, buku ilmu pengetahuan alam dan ensiklopedi semua harus direvisi.

(Dirangkum dari berbagai sumber termasuk space.com)*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s